header-int

RIBUAN MASYARAKAT TIONGHOA DI BENGKALIS MENGIKUTI PROSESI RITUAL PERAYAAN CUE LAK

Kamis, 22 Feb 2018, 10:12:38 WIB - 336 View
Share
RIBUAN MASYARAKAT TIONGHOA DI BENGKALIS MENGIKUTI PROSESI RITUAL PERAYAAN CUE LAK

DISPARBUDPORA.BKS - Ribuan masyarakat tionghoa di Bengkalis  mengikuti prosesi ritual perayaan Cue Lak atau hari keenam imlek dan sembahyang kepada Maha Dewa di Kelenteng Hok Ann Kiong yang dibangun pada tahun 1828 M yang berlokasi di Jalan Yos. Sudarso.
Perayaan Cue Lak diawali dengan mengikuti prosesi ritual (sembahyang) di Kelenteng, dilanjutkan dengan arak-arakan keliling Kota Bengkalis untuk melakukan penyemahan. Selain di Kelenteng, masyarakat Tionghoa lainnya juga melaksanakan prosesi sembahyang di depan rumah masing-masing dengan maksud memohon perlindungan dan keselamatan bersama kepada para Dewa. Rabu (21/2/2018)
Perayaan Cue Lak yang merupakan hari kelahiran Maha Dewa Cho Se Kong makin meriah dengan adanya arak-arakan keliling kota Bengkalis. Kegiatan arak-arakan ini dipimpin oleh waskita yang disebut Tang Ki, yaitu seseorang yang kerasukan dewa dan berbicara dengan manusia di sekitarnya dengan mempergunakan bahasa isyarat.
Kegembiraan yang tiap tahun selalu ditunggu-tunggu, dan bagi masyarakat Tionghoa Bengkalis, kegembiraan dalam merayakan hari keeenam Imlek tersebut, bukan hanya terjadi setelah masa reformasi. Puluhan tahun silam, ketika rezim orde baru masih berkuasa, perayaan seperti ini sudah dilakukan.
Di setiap jalan yang dilewati, para Tang Ki akan melakukan pembersihan. Seiring dengan itu, dentuman petasan yang dibakar oleh para warga Tionghoa membuat suasana makin meriah. Apalagi jumlah petasan yang dibakar tidak sedikit dan dibunyikan di setiap jalanan yang dilalui arak-arakan para dewa dewi.
Pantauan di lapangan para tanki melakukan rituas khusus di beberapa tempat. Seperti di perempatan simpang lampu merah Jalan Ahmad Yani – Hang Tuah, ada ritual khusus yang dilakukan oleh jelmaan dewa dewi tersebut. Di persimpangan tersebut, para Tang Ki mengawali ritual penyemahan dengan melakukan gerakan-gerakan khusus. Ada yang bersilat dan ada pula yangmenunjukkan kepiawaian memainkan pedang. Begitu Hiu dan kertas dibakar, lalu para  Tang Ki secara bergiliran melakukan penyemahan.
Ritual tersebut tidak hanya menarik perhatian para warga Tionghoa, tetapi juga masyarakat Bengkalis pada umumnya. Begitu ramainya, simpang empat Jalan A Yani – Hang Tuah untuk beberapa menit tidak bisa dilewati dengan penjagaan ketat oleh aparat kepolisian.
Menurut Humas Yayasan Hok Ann Kiong Herman Kusuma, mereka yang dirasuki oleh para dewa tersebut sudah terpilih melalui ritual khusus jauh hari sebelumnya. Mereka ada yang sudah memiliki bakat sejak kecil (faktor keturunan), dan ada pula yang dipilih dengan alasan-alasan tertentu. Dengan demikian, ketika pelaksanaan acara semah atau hari H, mereka yang sudah terpilih itu secara otomatis akan dirasuki oleh para dewa.
Dikatakan, arak-arakan keliling kota Bengkalis itu dilakukan untuk melakukan penyemahan, agar seluruh masyarakat tidak hanya kaum Tionghoa  terhindar dari gangguan roh jahat. Dalam perayaan Imlek dan Ciu Lak seluruh pengurus Kelenteng dan Panitia Perayaan Imlek Bengkalis mengharapkan semakin terjalinnya kebersamaan, kerukunan, keharmonisan hidup diantara sesama. “Dengan keyakinan bahwa dari tahun ke tahun, negara dan bangsa kita akan semakin maju berkembang, damai, aman, dan tenteram,” ujarnya.
 
 
DISPARBUDPORA.BKS - A thousand Tionghoa’s people of Bengkalis has held a Cue Lak ritual or sixth day of Lunar New Year and prayer in the Hok Ann Kiong temple wich built in 1828 is located in Yos Sudarso street.
The Cue Lak celebration begins with the procession of ritual (praying) in the temple, followed by a procession around the city of Bengkalis to do the weakening. In addition to the temple, other Tionghoa’s communities also carried out a procession of prayer in front of their homes with the intention of asking for protection and safety together to the Gods Wednesday February 21,2018.
The celebration of Cue Lak which is the birthday of the God Cho Se Kong, more festive with the procession around of the Bengkalis city.. The procession is led by a clairvoyant called Tang Ki, a man who is possessed by a deity and spoke with the around people by using sign language.
The year-long excitement is always eagerly awaited, and for the Bengkalis Tionghoa’s community, the excitement of celebrating the Lunar New Year dates, not only after the Reformation. Decades ago, when the New Order regime was in power, celebrations like this already have been done.
In every road that passed, the Tang Ki will have been cleaning. Along with that, the firecrackers fired by the Tionghoa’s comunity made the atmosphere even more festive. Moreover, the firecrackers that burned not a bit and sounded in every street that passed by the procession of goddesses.
Monitoring in the field of Tang Ki performed special rituals in some places. As in the intersection of Ahmad Yani - Hang Tuah steet, there is a special ritual performed by the goddess's incarnation. At the intersection, the Tang Ki initiated the weakening ritual by performing special movements. Some are greedy and showing the ingenuity of playing the sword. As soon as Sharks and the papers are burnt, then the Tang Ki takes turns.
The ritual not only attracted the attention of Tionghoa’s citizens, but also the Bengkalis community in general. So crowded, the intersection of A Jani - Hang Tuah street for a few minutes can not be passed by the tight police guard.
According to Herman Kusuma as Public Relations of Hok Ann Kiong temple, those who were possessed by the gods had been selected through special rituals far earlier. They have a talent since childhood (heredity), and some are selected for certain reasons. Those, when the implementation of the rituals, those who have been elected will automatically be possessed by the gods.
It is said, the procession around the city of Bengkalis was done to make the weakening, so that the whole society not only the Tionghoa are spared from the disorder of evil spirits. In the celebration of Lunar New Year and Cue Lak all the administrators of the Temple and Bengkalis Celebration Committee hopes for the establishment of togetherness, harmony of life among others. "With the belief that from year to year, our country and nation will be more developed, peaceful, safe, and serene," he said.

Unidha Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bengkalis sebagai salah satu OPD yang berada di Kabupaten Bengkalis, siap mendukung dan melayani pelayanan, pembangunan dan pengembangan bidang Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga. Dukungan dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan untuk terwujudnya Kabupaten Bengkalis sebagai salah satu Pusat Pariwisata dan Kebudayaan melayu Dunia.
© 2020 DISBUDPARPORA KAB. BENGKALIS Follow DISBUDPARPORA KAB. BENGKALIS : Facebook Twitter Linked Youtube