Penulis : Putri Aulia Mustika (202401029)Mahasiswa ISNJ Bengkalis, Jurusan Akuntansi SyariahDi tengah arus digitalisasi dan m.
Bahasa Melayu sebagai Cikal Bakal Bahasa Indonesia: Kajian Historis dan Sosiolinguistik
Reporter
Ditulis oleh : Fariatim
Mahasiswa ISNJ Bengkalis, Jurusan Akuntansi Syariah
Bahasa Indonesia yang kini menjadi bahasa resmi negara dan pemersatu bangsa memiliki akar sejarah yang kuat dalam Bahasa Melayu. Kajian historis menunjukkan bahwa Bahasa Melayu telah lama digunakan sebagai lingua franca di kawasan kepulauan Nusantara, bahkan sebelum kedatangan bangsa Eropa. Penggunaannya yang luas dalam perdagangan, pemerintahan kerajaan-kerajaan pesisir, dan penyebaran agama membuat Bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa antar suku dan lintas wilayah.
Secara historis, Bahasa Melayu memiliki karakteristik yang memudahkan penyebaran dan penerimaan: struktur gramatikalnya sederhana, tidak mengenal perubahan kata kerja berdasarkan subjek, serta terbuka terhadap pengaruh kosakata asing. Ini menjadikannya alat komunikasi yang efektif dalam masyarakat yang beragam secara etnis dan budaya. Bahasa ini juga diabadikan dalam bentuk tulisan, baik dalam aksara Jawi (Arab Melayu) maupun aksara Latin, tergantung pada konteks dan zamannya.
Kajian sosiolinguistik menyoroti bagaimana Bahasa Melayu mengalami proses standardisasi dan politisasi dalam pembentukan Bahasa Indonesia. Pada tahun 1928, melalui Sumpah Pemuda, para tokoh pergerakan kemerdekaan secara sadar memilih Bahasa Melayu sebagai dasar Bahasa Indonesia. Pilihan ini bersifat inklusif dan strategis: Bahasa Melayu relatif netral secara politik dibandingkan dengan bahasa etnis besar lainnya seperti Jawa atau Sunda, sehingga lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Proses modernisasi Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia melibatkan pembaruan ejaan, penambahan kosakata ilmiah, dan penyesuaian dengan kebutuhan zaman. Namun, struktur dasar dan sebagian besar kosa kata tetap mempertahankan ciri khas Bahasa Melayu. Dari perspektif sosiolinguistik, ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia bukanlah bahasa baru, melainkan hasil pengembangan dari bahasa yang telah lama hidup dalam interaksi sosial masyarakat Nusantara.
Dengan demikian, Bahasa Melayu bukan hanya cikal bakal, tetapi juga fondasi kuat bagi Bahasa Indonesia. Ia menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa dari era kerajaan, kolonialisme, hingga kemerdekaan. Memahami hubungan historis dan sosiolinguistik ini penting agar kita tidak memandang Bahasa Indonesia sebagai konstruksi semata, melainkan sebagai evolusi bahasa rakyat yang lahir dari kekayaan budaya dan interaksi sosial masyarakat Nusantara.
Berita Lainnya
DISPARBUDPORA, INDRAGIRI HULU- kadis parbudpora Kabupaten Bengkalis menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pariwisata se R.
DISPARBUDPORA, BATAM - Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Edi Sakura mengajak selur.
DISPARBUDPORA, BENGKALIS - Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso buka Festival Budaya Bahari, di Pantai Indah Selatbaru, Kecam.
BENGKALIS – DISPARBUDPORA, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Bengkalis menggelar audiensi dengan Kepala Din.













